Parigi Moutong, Zenta Inovasi – Bappelitbangda Kabupaten Parigi Moutong, melakukan riset mendalam untuk mengatasi fenomena gagal panen durian yang dikenal warga lokal sebagai penyakit “bangkalan”.
Kondisi ini ditandai dengan rusaknya kualitas buah hingga membuat petani kehilangan hasil panennya.
Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Bappelitbangda Parigi Moutong, Mardiana, S.E., mengungkapka, persoalan tersebut memicu dampak fatal bagi para petani di berbagai wilayah Parigi Moutong.
”Petani yang ada di Parigi ini hasil panennya tidak sampai 2,5 persen, bahkan ada yang gagal total. Rata-rata kondisinya semua begitu,” ujar Mardiana saat ditemui diruangannya, Kamis 30 Juli 2026.
Mardiana menjelaskan, berdasarkan hasil penelitian sementara yang dilakukan tim riset, persoalan buah durian yang mengalami “bangkalan” bukan disebabkan oleh infeksi penyakit atau hama tanaman, melainkan akibat degradasi kualitas lahan dan perubahan cuaca ekstrem.
”Dari hasil penelitian sementara yang kita dapatkan, itu sebenarnya bukan penyakit. Kondisi tanah yang rata-rata usianya sudah di atas 10 tahun, serta cuaca panas dan kemarau panjang kemarin sangat berpengaruh,” jelasnya.
Selain itu kata ia, penggunaan pupuk kimia secara masif dalam jangka panjang, disinyalir menjadi pemicu utama anjloknya kesuburan tanah.
”Rata-rata tanah kita itu nutrisinya tinggal 25 persen karena sudah terlalu banyak dimasuki bahan kimia, sehingga struktur tanahnya rusak. Bahkan ada pohon yang baru berumur sekitar 5 tahunan juga mengalami gagal total dan tidak bisa dipanen sama sekali,” tambahnya.
Menurutnya, sebagai solusi konkret, saat ini pihaknya sedang melakukan uji coba intervensi formulasi pupuk campuran (mix), yang mengombinasikan dominansi pupuk organik dengan sedikit tambahan pupuk kimia untuk memulihkan kadar nutrisi tanah.
Kata ia, jika SOP racikan ini terbukti efektif mengatasi fenomena ‘bangkalan’, tahun depan, Pemda Parigi Moutong berencana untuk mematenkan formula tersebut.
”Mudah-mudahan hasilnya bisa terlihat di tahun depan. Kalau memang SOP racikan pupuk ini berhasil, dan bisa mengatasi masalah bangkalan, maka racikan pupuk itu nanti akan kita patenkan juga,” tegasnya.
Ia menambahkan, meskipun seluruh wilayah terdampak, Bappelitbangda Parigi Moutong membatasi lokus penelitian tahun ini di Kecamatan Kasimbar dan Desa Beraban, Kecamatan Balinggi.
“Pemmilihan kedua wilayah tersebut karena lokasinya yang lebih dekat dengan pusat kota sehingga mempermudah proses pemantauan,” pungkasnya.






Alamat Redaksi :