Yardin Dorong Jurnalis Gunakan Etika Biosentrisme sebagai Kompas Menulis Isu Lingkungan

Palu, Zenta InovasiWartawan senior Sulawesi Tengah, Yardin Hasan, menegaskan bahwa jurnalisme lingkungan harus menggunakan etika biosentrisme sebagai kompas utama dalam kerja jurnalistik.

Pendekatan ini menempatkan seluruh makhluk hidup, manusia, flora, dan fauna sebagai entitas yang memiliki nilai, bukan sekadar objek eksploitasi atas nama pembangunan.

Bacaan Lainnya

Hal tersebut disampaikan Yardin saat menjadi narasumber, dalam Pelatihan Jurnalistik Menulis untuk Menyelamatkan Alam yang diselenggarakan Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI) Sulawesi Tengah, berkolaborasi dengan PT Donggi-Senoro LNG (DSLNG), Kamis sampai Jumat (8–9) Januari 2026, di Palu.

Yardin menekankan pentingnya keberpihakan pada korban dalam jurnalisme lingkungan. Keberpihakan tersebut, kata dia, tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga kepada flora dan fauna yang terdampak kerusakan lingkungan.

Menurut Yardin, jurnalisme lingkungan harus berpijak pada kebenaran ilmiah dan ekologis, bukan sekadar narasi populer yang berpotensi membelokkan fakta. Ia juga mengingatkan jurnalis agar tidak memberi panggung kepada pihak-pihak yang menyampaikan informasi menyesatkan terkait isu lingkungan.

Ia menilai intuisi jurnalis perlu terus diasah agar tajam dalam membaca persoalan lingkungan yang kompleks. Namun, intuisi saja tidak cukup tanpa dukungan data sains yang kuat. Karena itu, lanjutnya, jurnalis wajib menggunakan rujukan ilmiah agar setiap informasi yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam praktik peliputan, ia mengingatkan agar jurnalis tidak berhenti pada peristiwa yang tampak di permukaan. Liputan lingkungan harus menggali lebih dalam, menelusuri hubungan yang rusak antara manusia dan alam, serta disajikan dalam rentang waktu yang panjang untuk melihat akar persoalan dan dampaknya secara utuh.

Ia turut menyoroti penggunaan istilah-istilah seperti normalisasi, reklamasi, dan rehabilitasi yang kerap digunakan pemerintah. Menurutnya, bahasa dalam kebijakan maupun pemberitaan perlu ditelaah secara kritis agar tidak menyamarkan dampak kerusakan yang sebenarnya terjadi.

“Jurnalis harus bertanya, siapa yang menikmati keuntungan, dan siapa yang menanggung dampak kerusakan,” tegas Yardin.

Ia menutup dengan menekankan bahwa produk jurnalisme lingkungan bukan sekadar berita harian, melainkan arsip penting bagi masa depan. Apa yang ditulis hari ini, katanya, akan menjadi catatan sejarah tentang bagaimana manusia memperlakukan alam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *