Bedah Buku Daur Hidup Masyarakat Parigi Moutong Hadirkan Balai Bahasa Sulteng, Dorong Kajian Budaya Lokal

Keterangan Foto: Bedah Buku Daur Hidup Masyarakat Parigi Moutong, di Gedung Layanan Perpustakaan, Kamis 5 November 2026 (Foto: Elly/ZI)

Parigi Moutong, Zenta Inovasi- Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Parigi Moutong menggelar bedah buku Daur Hidup Masyarakat Parigi Moutong di Gedung Layanan Perpustakaan, Kamis 5 November 2026.

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap kekayaan budaya lokal sekaligus mendorong peningkatan literasi.

Bacaan Lainnya
Example 728x250

Kegiatan dibuka Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Agus Salim, dengan menghadirkan Nelis Pradesa, Penyuluh Bahasa Daerah dari Balai Bahasa Sulawesi Tengah, sebagai pembedah. Diskusi tersebut diikuti para penulis buku, yakni Pardi Salama, S.Pd., M.Pd., Rahmat, S.Pd., M.Pd., dan Maman Afriansyah, S.Pd., dihadiri guru, siswa, pegiat literasi dan masyarakat.

Dalam sambutannya saat membacakan amanat Bupati Parigi Moutong, Agus Salim menyampaikan bahwa penerbitan buku tersebut merupakan bagian dari upaya mendokumentasikan sejarah dan pengetahuan budaya daerah agar dapat dipelajari oleh generasi sekarang maupun yang akan datang.

“Melalui dokumentasi dan penerbitan buku ini, kita bersama-sama membangun jejak sejarah dan pengetahuan yang dapat diteladani oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Jangan sampai generasi kita lebih mengenal budaya luar, tetapi justru tidak mengenal sejarah, tradisi, dan kebudayaan sendiri,” ujarnya.

Ia menekankan pelestarian dan pengembangan warisan budaya daerah agar tradisi, adat istiadat, serta pengetahuan lokal tidak hilang ditelan perubahan zaman.

Selain itu, penguatan budaya literasi dan peningkatan minat baca masyarakat perlu terus dilakukan sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Hal lainnya adalah memperkenalkan nilai-nilai luhur dan kearifan lokal masyarakat Parigi Moutong agar tidak sekadar menjadi dokumentasi tertulis, tetapi tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Agus Salim juga menyampaikan bahwa kegiatan bedah buku memiliki peran penting dalam meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi masyarakat. Selain itu, kegiatan tersebut membuka ruang diskusi sekaligus mendorong tumbuhnya pemikiran yang mendalam dan kritis.

Ia berharap kegiatan literasi seperti ini terus dikembangkan agar masyarakat tidak hanya menjadikan membaca sebagai aktivitas memperoleh informasi, tetapi juga mampu memahami, mengolah, dan mendiskusikan berbagai pengetahuan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Parigi Moutong, Syamsu Nadjamudin, mengatakan pemahaman terhadap budaya daerah perlu terus diperkuat, termasuk memahami berbagai bentuk interaksi sosial dan interaksi budaya yang berkembang di tengah masyarakat.

Bedah Buku Daur Hidup Masyarakat Parigi Moutong Hadirkan Balai Bahasa Sulteng, Dorong Kajian Budaya Lokal

Menurutnya, keberadaan penulis lokal yang aktif menghasilkan karya dan menyelenggarakan diskusi buku merupakan hal positif bagi perkembangan literasi dan pelestarian pengetahuan budaya daerah.

“Saya bersyukur ada penulis lokal yang terus aktif menulis dan melakukan diskusi buku seperti ini. Buku ini tidak hanya didiskusikan secara lokal, tetapi juga diharapkan bisa dipublikasikan dan diperkenalkan dalam ruang lintas budaya,” ujarnya.

Syamsu menilai kekayaan budaya Parigi Moutong memiliki keunikan tersendiri yang perlu dikaji lebih jauh. Melalui kegiatan bedah buku, berbagai pengetahuan mengenai kehidupan dan kebudayaan masyarakat diharapkan dapat terdokumentasi serta dikenal lebih luas.

Ia juga mengajak seluruh pihak bergerak bersama meningkatkan literasi masyarakat. Di sisi lain, Syamsu mengungkapkan tingkat kegemaran membaca masyarakat Parigi Moutong berada pada tiga besar di Sulawesi Tengah. Namun, capaian tersebut belum sepenuhnya menggambarkan jenis bacaan yang dikonsumsi masyarakat.

“Tingkat kegemaran membaca kita berada di tiga besar di Sulawesi Tengah. Tetapi, ini belum bisa mengidentifikasi buku apa yang dibaca masyarakat,” jelasnya.

Ia juga menyoroti Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Parigi Moutong yang masih rendah. Salah satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah penguatan perpustakaan sekolah, yang dinilai menjadi garda terdepan dalam membangun budaya literasi sejak dini.

Menurutnya, koleksi perpustakaan sekolah saat ini masih perlu diperluas karena sebagian besar hanya menyediakan buku pelajaran. Padahal, siswa juga membutuhkan bahan bacaan pengetahuan umum dan berbagai referensi lain untuk memperkaya wawasan.

“Perpustakaan sekolah perlu diaktifkan. Jangan hanya buku pelajaran, tetapi buku pengetahuan umum juga harus diperbanyak dan dibagikan ke perpustakaan sekolah. Begitu juga perpustakaan desa, perlu dibenahi dengan menyediakan berbagai jenis buku yang lebih variatif,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *