Parigi Moutong, Zenta Inovasi – Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parigi Moutong, Sunarti, menyampaikan kebanggaannya kepada Bidang Kebudayaan dan para seniman yang telah sukses menyelenggarakan Festival Gampiri dan Gelar Karya Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) 2026.
Sunarti menilai, antusiasme masyarakat yang hadir sejak malam pembukaan menjadi bukti bahwa festival tersebut mendapat sambutan positif.
Menurutnya, Festival Gampiri pantas dinobatkan sebagai salah satu agenda kebanggaan Bidang Kebudayaan karena menjadi ruang ekspresi seni dan budaya sekaligus memperkuat identitas budaya lokal Parigi Moutong.
“Melihat animo dan antusiasme seluruh masyarakat Parigi yang hadir sejak semalam, kegiatan ini sangat istimewa. Kita dapat menyimpulkan bahwa kegiatan ini luar biasa dan sukses,” ujar Sunarti, saat menutup kegiatan di Alun-Alun Kota Parigi, Selasa 3 November 2026 malam.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh penyelenggara, seniman, serta pihak yang terlibat dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Menurutnya, keberhasilan festival tidak hanya terlihat dari kemeriahan acara, tetapi juga dari karya dan kemampuan seni yang ditampilkan para peserta didik melalui program GSMS.
Sunarti menjelaskan, GSMS merupakan program yang diinisiasi Kementerian Kebudayaan. Melalui program tersebut, para seniman dilibatkan untuk mentransfer pengetahuan dan keterampilan seni kepada peserta didik di satuan pendidikan.
Menurutnya, program ini penting untuk dilanjutkan meskipun nantinya tidak lagi mendapatkan program dari kementerian. Sebab, Parigi Moutong masih membutuhkan tenaga pengajar seni, sementara guru dengan latar belakang pendidikan khusus di bidang seni masih sangat terbatas.
“Melalui program GSMS, ternyata kita hampir bisa memenuhi kebutuhan pembelajaran seni di satuan pendidikan dengan melibatkan para seniman daerah. Karena itu, saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh seniman Kabupaten Parigi Moutong,” jelasnya.
Ia menambahkan, Gelar Karya GSMS juga menjadi sarana monitoring dan evaluasi bagi pemerintah daerah untuk melihat hasil pembinaan seni di sekolah.
Melalui satu kegiatan bersama, berbagai penampilan peserta didik dapat disaksikan sekaligus menjadi bahan penilaian terhadap aspek yang masih perlu diperbaiki maupun ditingkatkan.
Sunarti menegaskan, pelestarian budaya lokal perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kegiatan yang melibatkan generasi muda. Sebab, kata dia, tanpa ruang ekspresi dan pertunjukan seperti festival, budaya asli daerah berisiko semakin tergerus bahkan perlahan-lahan punah.
“Melalui kegiatan ini, kita berharap peserta didik sebagai generasi penerus dapat mencintai dan melestarikan budayanya sendiri. Bahkan, kecintaan terhadap budaya sendiri diharapkan mampu menjadi filter terhadap budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur warisan leluhur kita,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Parigi Moutong, Ninong Pandake, mengatakan Festival Gampiri tahun diramaikan berbagai perlombaan tradisional untuk memperkenalkan kembali permainan dan keterampilan budaya daerah.
Sejumlah perlombaan yang digelar di antaranya lomba sopu atau meniup sumpit yaitu alat tradisional suku Kaili, permainan tilako atau engrang, serta lomba memasak makanan tradisional.
Pada lomba sopu kategori pelajar, juara pertama diraih Moh Habibi dan juara kedua Alif Rahman, keduanya merupakan siswa SMP IT Lisanul Arab. Juara ketiga diraih Moh Reza dari SMA Negeri 1 Parigi. Sementara kategori umum, juara pertama Zulkifli, juara kedua Hamsun, dan juara ketiga Halib.
Untuk lomba tilako, juara pertama diraih Adam, juara kedua Febri, dan juara ketiga Radit Prasetya. Sedangkan lomba memasak makanan tradisional, juara pertama diraih PKK Kecamatan Parigi, juara kedua PKK Desa Olaya, dan juara ketiga PKK Kelurahan Masigi.
“Terima kasih partisipasi semua peserta lomba yang dilaksanakan pada Festival Budaya Gampiri. Teruslah mencintai budaya karena melalui budaya kita lebih mengenal jati diri kita,” tutup Ninong.







Alamat Redaksi :