Pemda Parigi Moutong Tunggu Hasil Treatment Durian Bangkalan pada Januari 2027

Keterangan Foto: Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Bappelitbangda Parigi Moutong, Mardiana.

Parigi Moutong, Zenta Inovasi – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah, masih menunggu hasil buah pada Januari 2027 untuk mengetahui efektivitas treatment yang diuji dalam penelitian penanggulangan penyakit bangkalan pada durian.

Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan Bappelitbangda Parigi Moutong, Mardiana, mengatakan penelitian yang melibatkan akademisi Fakultas Pertanian Universitas Tadulako (Untad) tersebut telah berlangsung sekitar enam bulan dan secara teknis telah berakhir pada awal September 2026.

Bacaan Lainnya

Namun, hasil treatment belum dapat dinilai secara maksimal karena tanaman yang menjadi objek penelitian masih menunggu masa berbuah.

“Kita menunggu sampai hasil buah untuk di awal Januari nanti. Apakah dari hasil itu buahnya nanti akan berkurang bangkalannya atau tidak” kata Mardiana di Parigi, Rabu, 30 September 2026.

Ia menjelaskan, treatment yang diuji dalam penelitian dilakukan melalui pemberian pupuk organik dan pestisida untuk mengembalikan nutrisi tanah. Tim peneliti juga telah menyusun Petunjuk Teknis (Juknis) yang mengatur tahapan pemberian pupuk.

Penelitian mengambil sampel dari wilayah utara dan selatan Parigi Moutong, masing-masing di Kecamatan Kasimbar dan Desa Beraban, Kecamatan Balinggi.

“Di Beraban dua sampel saja karena baru itu yang bisa kami ambil sampelnya. Jadi wilayah utara satu, wilayah selatan satu,” ujarnya.

Menurut Mardiana, hasil sementara penelitian tidak menunjukkan penyakit bangkalan disebabkan oleh virus seperti yang selama ini diperkirakan sebagian petani. Tim justru menemukan indikasi kuat berkaitan dengan kondisi nutrisi tanah.

“Kalau dari hasilnya itu bukan penyebab karena virus. Petani selama ini menganggapnya dari virus. Nah, tapi kalau hasil penelitian itu dari nutrisi tanah,” katanya.

Ia menyebut kondisi tanah di Parigi Moutong dinilai telah mengalami penurunan kualitas, salah satunya diduga berkaitan dengan penggunaan pestisida secara intensif.

Selain kondisi nutrisi tanah, tim juga mengamati faktor lain seperti tingginya suhu dan kekurangan air. Namun, Mardiana menegaskan faktor yang paling utama dalam hasil penelitian sementara adalah kekurangan nutrisi tanah.

“Yang paling utama itu kekurangan nutrisi. Tanahnya kita ini mikronya sudah tidak bagus,” ujarnya.

Persoalan tersebut, kata dia, juga berkaitan dengan pola budidaya durian. Petani disebut menggunakan hormon untuk mendorong tanaman agar lebih cepat berbuah.

“Dari awal itu durian sudah dipaksa dengan itu harus cepat, harus cepat berbuah,” katanya.

Karena itu, penanganan dinilai perlu dilakukan sejak awal pertumbuhan tanaman dengan memperhatikan kebutuhan nutrisi, termasuk melalui penggunaan pupuk organik dan pupuk kandang.

Mardiana mengatakan penelitian idealnya dilakukan selama satu tahun dengan treatment dimulai sebelum musim. Namun, pelaksanaan penelitian disesuaikan dengan pagu anggaran yang tersedia.

Meski penelitian secara teknis dan administrasi telah selesai, pemantauan terhadap tanaman masih dilakukan bersama petani dan tim peneliti. Perkembangan treatment juga terus disampaikan petani melalui grup komunikasi yang dipantau tim.

“Walaupun secara teknis untuk SPJ-nya sudah selesai, tapi informasi dari petani dan para peneliti juga masih terus memantau terus sampai hari ini,” ujarnya.

Hasil buah pada Januari 2027 nantinya akan menjadi bahan evaluasi untuk menentukan apakah formulasi treatment tersebut efektif mengurangi bangkalan pada durian.

Jika menunjukkan hasil yang baik, Bappelitbangda Parigi Moutong berencana mengembangkan formulasi tersebut lebih lanjut, termasuk kemungkinan dipatenkan.

“Insyaallah akan kami kembangkan dan tahapannya itu bisa kami sampai patentkan,” kata Mardiana.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *