Kabid GTK Parigi Moutong: Rendahnya Rapor Pendidikan Bukan Selalu Soal Kualitas, Tapi Masalah Pelaporan

Foto: Kepala Bidang GTK Disdikbud Parigi Moutong, Farid. (AI Genarated)

Parigi Moutong, Zenta InovasiKepala Bidang GTK Disdikbud Parigi Moutong, Farid mengungkapkan, indikator rendahnya mutu pendidikan pada satu wilayah sering kali dipicu oleh ketidakteraturan pelaporan data digital, bukan semata-mata karena rendahnya kualitas mengajar guru.

Ia menjelaskan, banyak sekolah yang sudah menjalankan program namun tidak tercatat di sistem Rapor Pendidikan karena kendala teknis atau kurangnya literasi teknologi.

Bacaan Lainnya

​”Rendahnya rapor itu bukan karena guru kita tidak bagus. Bisa jadi karena tidak melek teknologi. Yang harus dilaporkan sudah ada hasilnya, tapi tidak diisi. Contohnya kegiatan pesantren kilat, diprogramkan dan dilaksanakan, tapi tidak dilaporkan ke sistem pusat. Akhirnya terbaca rendah oleh sistem,” ujar Farid.

Untuk mengatasi hal tersebut kata ia, Bidang GTK telah menetapkan program prioritas yang berfokus pada pendampingan berkelanjutan.

Setelah penguatan literasi digital, para guru akan didampingi dalam pembuatan konten media ajar serta optimalisasi pengisian Rapor Pendidikan.

Ia menyebutkan, Disdikbud telah menetapkan 11 sekolah sebagai pilot project yang memiliki nilai literasi dan numerasi dengan grade A dan B.

Menariknya, sekolah-sekolah unggulan ini tidak hanya didominasi oleh sekolah di wilayah perkotaan yang memiliki fasilitas memadai.

​”Sekolah pilot ini tidak hanya dalam kota. Ada yang dari Kecamatan Sausu hingga Taopa. Contohnya di Taopa, mereka jadi pilot untuk wilayah Moutong karena kepala sekolahnya sangat aktif. Jadi bukan soal fasilitas atau jaringan internet saja, tapi soal keseriusan,” ungkap Farid.

Farid menambahkan, sebagai langkah konkret, pihaknya telah menyusun jadwal pendampingan yang intensif bagi para pendidik. Setelah pelatihan literasi digital, bulan depan akan dilanjutkan dengan pendampingan pembuatan konten media ajar, yang kemudian akan dievaluasi dampaknya terhadap pembelajaran siswa.

Target utama dari rangkaian program ini adalah agar tidak ada lagi siswa di Parigi Moutong yang tertinggal dalam kemampuan dasar.

​”Jangan sampai anak-anak kita tidak bisa membaca, tidak bisa bercerita, apalagi tidak tahu perhitungan dasar. Target kita adalah hasil akhirnya, dan basisnya adalah laporan yang akurat,” tutup Farid.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *