Bimtek KOSP PKBM, Dorong Implementasi Kurikulum Merdeka dan Pembelajaran Mendalam Berbasis Keterampilan

Foto: Bidang Paud Dikmas Dikbud Parigi Moutong

​Parigi Moutong, Zenta InovasiDinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Parigi Moutong, melalui Bidang Paud dan Dikmas, menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP) pada Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan Sanggar Kegiatan Belajar (SKB).

Kegiatan yang digelar pada 30 Oktober 2025 kemarin, berfokus pada transisi penuh ke Kurikulum Merdeka serta penekanan pada konsep Pembelajaran Mendalam dalam pendidikan kesetaraan.

Bacaan Lainnya

Demikian yang diungkapkan Kepala Bidang Paud dan Dikmas Dahniar, saat ditemui diruangannya Rabu 5 November 2025.

Ia mengatakan, kegiatan tersebut diikuti oleh perwakilan dari sekitar 35 PKBM/SKB 34 swasta dan 1 negeri. Hal itu bertujuan memastikan bahwa satuan pendidikan kesetaraan memiliki kurikulum operasional yang setara dengan sekolah formal, sekaligus adaptif terhadap kebutuhan peserta didik nonformal.

​Dahniar menjelaskan, pendidikan kesetaraan PKBM/SKB, harus setara dengan pendidikan formal, termasuk dalam penerapan Kurikulum Merdeka. Hal itu berarti PKBM/SKB tidak hanya mengajarkan materi mata pelajaran formal seperti K-13 dan Kurikulum Merdeka, tetapi juga wajib mengimplementasikan pembelajaran mendalam.

“Pembelajaran mendalam diarahkan untuk membekali peserta didik keterampilan atau skill, tidak hanya bermodalkan ijazah. Harapannya, lulusan memiliki modal keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja atau membuka usaha mandiri,” jelasnya.

Menurutnya, peserta didik pendidikan kesetaraan mencakup rentang usia yang luas, yakni mulai dari usia sekolah 7-24 tahun hingga usia tidak sekolah 25 tahun ke atas. Kebutuhan utama kelompok usia non-sekolah ini adalah skill yang bisa langsung diterapkan.

Materi keterampilan yang diajarkan harus kontekstual dan terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari, seperti pembuatan abon, merangkai bunga, keterampilan komputer dan pertukangan.

Kata ia, setiap PKBM didorong untuk mengembangkan keterampilan unggulan. Contoh yang dibahas adalah pembuatan Sambal Roa sebagai keterampilan kewirausahaan, yang mencakup teori mengenal bahan baku lokal seperti ikan roa dari daerah Parigi dan potensi usahanya, kemudian membuat resep dan melakukan praktik produksi, serta menghitung biaya, keuntungan, dan teknik pengemasan produk.

“Diprakteknya itu kita sudah hitungkan pembiayaan anggaran untuk kelola usaha. Terus keuntungannya berapa, biayanya berapa, kemudian kita ajarkan juga cara mengemasnya. Jadi setelah belajar nonformal mereka ada usaha nantinya dan bisa buka usaha kedepannya,” tuturnya.

Dahniar menambahkan, dalam pembelajaran membuat keterampilan, mereka harus punya modul ajar sebagai Panduan Praktik untuk memastikan kualitas dan menjadi panduan baku. Modul ini menuntun proses dari teori, praktik, hingga menghasilkan produk nyata, lengkap dengan perhitungan anggaran dan strategi pengemasan.

Sementara itu, kegiatan ini menghadirkan narasumber Darmin, S.Pd., M.Pd. Widya Prada Ahli Madya BPMP Sulawesi Tengah dan Sukri Tolinggi, S.Pd., M.Pd. Fasilitator Daerah Pembelajaran Mendalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *