Bukan Sekadar Minat Baca, Pendataan Perpustakaan Jadi Kunci Dongkrak IPLM

Keterangan Foto: SD Inpres bajo Desa Bajo (Doc. Dispusaka Parigi Moutong)

Parigi Moutong, Zenta Inovasi – Rendahnya Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Kabupaten Parigi Moutong menjadi perhatian serius Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah.

Dengan nilai IPLM sekitar 39,35 Parigi Moutong masih berada di bawah rata-rata Sulawesi Tengah. Namun, rendahnya indeks tersebut tidak serta-merta menggambarkan rendahnya aktivitas literasi masyarakat.

Bacaan Lainnya

Demikian kata Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Parigi Moutong, Syamsu Nadjamudin melalui Kepala Seksi Layanan Otomasi dan Kerjasama Perpustakaan, Ildayani, S.Ip, ditemui Selasa 8 September 2026.

Kata dia, salah satu persoalan utama yang ditemukan adalah belum optimalnya pendataan perpustakaan, khususnya perpustakaan sekolah dan perpustakaan desa di wilayah Kabupaten Parigi Moutong.

Luasnya wilayah dengan jumlah mencapai 278 desa menjadi salah satu kendala dalam menjangkau seluruh fasilitas perpustakaan untuk dilakukan pendataan.

Meski demikian, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah sebelumnya telah melakukan pendataan dengan dukungan anggaran dari pemerintah pusat. Hingga saat ini, pendataan telah menjangkau sekitar 60 hingga 70 persen perpustakaan yang menjadi sasaran.

Pendataan tersebut penting karena keberadaan perpustakaan yang belum masuk dalam sistem pendataan dapat memengaruhi penilaian indeks literasi daerah.

“Parigi Moutong sebenarnya bisa saja nilai IPLMnya lebih tinggi, tetapi karena luas wilayah dan banyaknya desa, masih ada perpustakaan yang belum terjangkau untuk didata,” ungkap Ildayani.

Dari hasil pendataan sementara, ditemukan bahwa sekitar 70 persen sekolah di Kabupaten Parigi Moutong sebenarnya telah memiliki gedung perpustakaan. Namun, persoalan lainnya adalah masih terdapat perpustakaan yang belum memiliki Nomor Pokok Perpustakaan (NPP) dari Perpustakaan Nasional.

Padahal, kata Ildayani, nomor tersebut menjadi salah satu identitas dan persyaratan administrasi penting bagi perpustakaan sekolah maupun perpustakaan desa.

Selain persoalan administrasi, ketersediaan sarana dan koleksi bacaan juga menjadi perhatian. Sebab masih ditemukan sejumlah sekolah yang telah memiliki ruangan atau gedung perpustakaan, tetapi koleksi yang tersedia didominasi oleh buku pelajaran.

Kondisi tersebut dinilai belum mencerminkan fungsi perpustakaan secara optimal sebagai pusat kegiatan literasi dan penyedia bahan bacaan bagi peserta didik.

“Masih banyak sekolah yang hanya membeli buku pelajaran, tetapi belum menyediakan buku bacaan. Padahal perpustakaan seharusnya menyediakan bahan bacaan yang beragam, bukan hanya buku pelajaran,” jelasnya.

Dalam proses pendataan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah juga menemukan kondisi sebaliknya, yakni sekolah yang telah memiliki koleksi buku bacaan tetapi belum mempunyai gedung atau ruang perpustakaan.

Salah satu temuan berada di wilayah Kecamatan Bolano Lambunu. Buku-buku bacaan yang telah dibeli sekolah belum dapat dimanfaatkan secara maksimal karena belum tersedia gedung perpustakaan, sehingga sebagian koleksi masih tersimpan di dalam kardus.

Lanjutnya, untuk mengatasi persoalan tersebut, pihaknya terus melakukan sosialisasi kepada pemerintah desa dan satuan pendidikan. Sosialisasi telah dilakukan di sejumlah kecamatan dengan jarak cukup jauh dari pusat ibu kota kabupaten. Program tersebut mendapat respons positif dari kepala desa maupun kepala sekolah.

Kata dia, pendataan perpustakaan akan dilanjutkan secara bertahap pada tahun depan hingga seluruh perpustakaan sekolah dan desa di Kabupaten Parigi Moutong dapat terjangkau.

Selain perpustakaan sekolah dan desa, kegiatan serupa yaitu taman bacaan masyarakat serta kegiatan literasi berbasis komunitas disebut telah lebih dahulu masuk dalam pendataan.

Menurutnya, sejumlah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) di Kabupaten Parigi Moutong juga telah memiliki Nomor Pokok Perpustakaan dan memperoleh dukungan bantuan dari Perpustakaan Nasional.

Dengan melengkapi pendataan, administrasi, sarana, serta koleksi bahan bacaan, pihaknya berharap potensi literasi yang selama ini belum tercatat dapat masuk dalam sistem penilaian.

Langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai IPLM Kabupaten Parigi Moutong, tetapi juga memperkuat akses masyarakat terhadap bahan bacaan dan kegiatan literasi hingga ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *