Parigi Moutong, Zenta Inovasi – Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah, menggandeng kalangan akademisi dari Universitas Tadulako (Untad) untuk mengidentifikasi berbagai persoalan yang menyebabkan capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan di sejumlah wilayah belum mencapai target 100 persen.
Kerja sama tersebut akan melibatkan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako yang direncanakan turun langsung ke sejumlah wilayah kerja puskesmas di Kabupaten Parigi Moutong pada Oktober 2026.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong Darlin mengatakan, persoalan kesehatan yang dihadapi daerah cukup kompleks, terutama dalam memenuhi 12 indikator SPM bidang kesehatan yang menjadi perhatian pemerintah daerah.
“Standar capaian pelayanan yang ditargetkan harus mencapai 100 persen. Namun, berdasarkan kondisi di lapangan, masih terdapat sejumlah indikator yang belum mencapai target tersebut,” ujar Darlin, ditemui di ruang kerjanya, Selasa 8 September 2026.
Karena itu, menurut Darlin, keterlibatan akademisi dinilai penting untuk membantu pemerintah daerah mengidentifikasi akar persoalan melalui penelitian yang dilakukan mahasiswa.
“Perlu kerja sama dengan akademisi untuk meriset melalui mahasiswa-mahasiswa mereka, supaya kita tahu apa akar atau pokok masalah yang menyebabkan capaian kita tidak sampai pada standar 100 persen,” ungkapnya.
Ia mengatakan, kerja sama dengan Universitas Tadulako bukan merupakan pertemuan pertama. Setelah sebelumnya dilakukan pembahasan dan kunjungan, pihak Untad direncanakan akan mengirim sekitar 160 mahasiswa yang terbagi dalam 27 tim.
Para mahasiswa tersebut akan ditempatkan di empat wilayah kerja puskesmas, yakni Puskesmas Siniu, Puskesmas Ampibabo, Puskesmas Sienjo, dan Puskesmas Kasimbar.
Pemilihan wilayah tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi jangkauan pelayanan serta angka-angka capaian indikator kesehatan di masing-masing wilayah.
“Seperti pada indikator Kesehatan Ibu dan Anak juga stunting, wilayah ini menjadi perhatian kami,” kata Darlin.
Dinas Kesehatan berharap hasil penelitian mahasiswa nantinya tidak hanya memberikan gambaran mengenai persoalan di lapangan, tetapi juga menghadirkan rekomendasi dan solusi yang dapat mendukung peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat.
“Kita berharap mereka bisa memberikan solusi dan mendukung kami dari sisi beberapa tantangan yang telah dipaparkan. Mungkin dari persoalan-persoalan itu mereka bisa memberikan solusi lewat inovasi,” katanya.
Menurut Darlin, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut juga dinilai strategis karena berasal dari berbagai disiplin ilmu di bidang kesehatan.
Mahasiswa yang turun ke lapangan tidak hanya berasal dari satu jurusan, tetapi mencakup bidang promosi kesehatan, gizi, kesehatan ibu dan anak (KIA), serta bidang kesehatan lainnya.
Menurutnya, pendekatan multidisiplin tersebut diharapkan mampu menghasilkan pembacaan persoalan yang lebih komprehensif.
“Kalau mahasiswa dengan berbagai jurusan turun, ada promkes, ada gizi, ada KIA, mereka multidimensi. Kami sangat mengapresiasi karena yang turun tidak hanya satu jurusan. Sehingga ada inovasi-inovasi dengan berbagai jurusan turun dalam satu tim,” jelasnya.
Model kegiatan lapangan mahasiswa tersebut, lanjut dia, berbeda dari pola praktik lapangan biasa karena mahasiswa diharapkan mampu membaca langsung situasi di masyarakat dan mengidentifikasi persoalan berdasarkan bidang keilmuan masing-masing.
Selain memperkuat kerja sama dengan akademisi, Dinas Kesehatan Parigi Moutong juga menilai keterlibatan lintas sektor menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam menyelesaikan persoalan kesehatan.
Pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tenaga kesehatan, hingga unsur masyarakat diharapkan dapat terlibat aktif dalam memberikan informasi serta mendukung pelaksanaan program kesehatan.
“Persoalan kesehatan terutama tidak bisa kami selesaikan sendiri. Pemerintah kecamatan dan pemerintah desa memang tidak terlepas, kita gandeng. Karena persoalan kesehatan ini sangat kompleks,” tandasnya.
Ia menambahkan, persoalan kesehatan akan terus berkembang sehingga pola pelayanan kepada masyarakat juga harus menyesuaikan dengan kondisi dan perkembangan yang terjadi.
“Pelayanan kepada masyarakat tidak harus monoton begitu saja, tetapi harus menyesuaikan dengan perkembangan,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi juga penguatan lintas sektor, Dinas Kesehatan Parigi Moutong berharap kualitas pelayanan kesehatan masyarakat terus meningkat dan target pelayanan dasar dapat dipenuhi secara maksimal.






Alamat Redaksi :