Sulawesi Tengah, Zenta Inovasi– 21 peserta mengikuti pelatihan penulisan sejarah lokal yang merupakan program fasilitasi pemajuan kebudayaan, di Rumah Peduli SKP-Ham Palu, Rabu- Kamis (10-11) 2025.
Program ini diinisiasi Jefrianto, yang lolos seleksi dari tim ferivikator Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII 2025 (Sulbar- Sulteng).
Pada hari pertama, materi dibawakan Sejarawan Wilman D Lumangino, terkait Pentingnya Menulis Sejarah Lokal. Kemudian dilanjutkan dengan materi Metode Penulisan Sejarah dan Cerita Warga, oleh Dr. Ilham Dg. Makkelo.
Jefrianto dalam sambutanya mengatakan, kegiatan ini digagas berangkat dari kegelisahan dari budaya tutur yang tidak dibarengi dengan masifnya budaya tulis. Sehingga menurutnya, ada kehawatiran sejarah lokal terancam hilang karena tidak dituliskan.
“Output kegiatan ini adalah buku, untuk memperkaya khasana penulisan sejarah Sulteng yang masih jauh dari harapan,” ucapnya.
Jefrianto menekankan, sejarah bukan hanya milik sejarawan tetapi juga milik siapa saja yang peduli pada sejarah. Sehingga penting untuk menulis sejarah lokal.
Dari Wilman, peserta diberikan pengetahuan bahwa ada empat kategori studi sejarah lokal yang diambil dari Sejarawan, Taufik Abdullah.
Pertama, studi yang di fokuskan pada peristiwa tertentu (studi perisitiwa khusus), kedua, studi yang menekankan pada struktur, ketiga, studi yang mengambil perkembangan aspek tertentu dalam kurun waktu tertentu (sistematis), dan keempat, studi sejarah umum yang menguraikan perkembangan daerah tertentu (provinsi, kota, kabupaten dari masa ke masa.
Wilman juga menggunakan tulisan Kuntowijoyo, 2023. Menjelaskan bahwa sejarah lokal bentuknya mikro, ada dinamika, peristiwa sejarah, dinamika internal daerah, sesuatu yang khas dan otonom.
“Kategori sejarah itu ada pelaku sejarah, menyaksikan, yang diceritakan, yang mampu menceritakan kembali,” jelas Wilman.
Sehingga dia menyarankan, penulis sejarah lokal bisa mulai dari topik-topik kecil dan spesifik. Gunakan sumber yang beragam jenisnya dan membaca buku dasar dalam menulis sejarah.
“Pentingnya sumber sezaman untuk membantu penulis sejarah menjelaskan jiwa zamanya,” tandasnya.
Sementara dari akademisi yang juga seorang sejarawan, Ilham Daeng Makkelo, peserta diberikan pemahaman tentang Metode Penulisan Sejarah dan Cerita Warga, dengan berangkat dari sejarah publik.
Menurutnya, sejarah publik ruang lingkupnya lebih luas karena sifatnya bisa mencakup apa saja yang ada di masyarakat.
“Ini satu istilah yang meliputi seluruh aktivitas kesejarahan di luar sejarah akademik,” pungkasnya.
Pantauan media ini, kegiatan dibuka oleh Abdul Kahar dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII 2025 (Sulbar- Sulteng).

Alamat Redaksi :