Parigi Moutong, Zenta Inovasi– Penguatan budaya membaca di era digital menjadi tantangan bersama, tidak hanya dalam meningkatkan minat baca, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat memilah informasi agar tidak mudah terpengaruh berita bohong atau hoaks.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam gelar wicara Festival Literasi Parigi Moutong yang dilaksanakan Dinas Perpustakaan dan Kearsiapan Daerah dengan mengusung tema “Bijak Membaca di Era Digital, Mengubah Informasi Menjadi Solusi”, di Gedung Perpustakaan, Jumat 30 Oktober 2026.
Gelar wicara tersebut menghadirkan Ketua DPRD Parigi Moutong Alfres Tonggiroh, Bunda Literasi Kabupaten Parigi Moutong, Hestiwati Nanga, Tokoh Masyarakat Penggerak Literasi Sulawesi Tengah, I Nyoman Sriadi Jaya dan Pegiat Literasi sekaligus pendiri Nemu Buku, Neni Muhidin dan Ketua Forum TBM Sulteng, Devi Artini Uga.
Bunda Literasi Kabupaten Parigi Moutong, Hestiwati Nanga, menekankan pentingnya kehadiran peran Bunda Literasi dari tingkat kabupaten hingga desa, sebagai motor penggerak dan figur teladan dalam membangun budaya membaca di tengah masyarakat.
Menurutnya, peningkatan capaian literasi membutuhkan dukungan semua pihak, kolaborasi lintas sektor dan keberpihakan kebijakan penganggaran.
“Kita memang harus kolaborasi, mengaktifkan kembali pojok-pojok baca, bukan berarti harus ada bangunanya, di area pelayanan publik seperti Puskesmas atau Posyandu dan Rumah Sakit perlu disiapkan pojok baca,” ucap Hestiwati.
Upaya tersebut kata dia, dapat memperluas akses masyarakat terhadap bahan bacaan sekaligus membangun kebiasaan membaca sejak usia dini.
Pada kesempatan itu, Pegiat Literasi sekaligus pendiri Nemu Buku, Neni Muhidin membahas pentingnya membangun kebiasaan membaca buku sebagai fondasi untuk menghadapi tantangan literasi digital.
Ia mengingatkan kembali, sejarah Gerakan Indonesia Membaca yang dicanangkan di Parigi Moutong saat pelaksanaan Sail Tomini tahun 2015, oleh Menteri Pendidikan Anis Baswedan.
Setelah pencanangan itu, disusun Peraturan Menteri nomor 23 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, salah satu praktiknya adalah kewajiban membaca buku non pelajaran selama 15 menit sebelum kegiatan belajar dimulai.
“Coba bayangkan kalau itu terus dilakukan sejak 2015 lalu, kita tidak akan terlalu khawatir soal kecanduan gawai di era digital saat ini atau khawatir soal maraknya hoax,” ujar Neni Muhidin.
Menurutnya, budaya membaca buku fisik belum sepenuhnya terbentuk, padahal masyarakat sudah dihadapkan pada perkembangan literasi digital. Kondisi tersebut turut berkaitan dengan masih maraknya penyebaran informasi keliru atau hoaks.
Ia menilai, kebiasaan membaca buku dapat membangun kemampuan berpikir logis dan kritis sehingga masyarakat memiliki bekal untuk memahami serta memilah informasi yang diterima melalui media digital.
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Parigi Moutong, Syamsu Nadjamudin, menegaskan komitmennya untuk mengoptimalkan pemanfaatan gedung perpustakaan sebagai fasilitas pengembangan literasi masyarakat.
Ia menyebut keberadaan dan pemanfaatan gedung tersebut sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mendorong kemajuan literasi di daerah. Karena itu, dukungan berbagai pihak dibutuhkan agar fasilitas yang tersedia dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Melalui gelar wicara Festival Literasi ini, penguatan budaya baca diharapkan tidak hanya menjadi tanggung jawab perpustakaan, tetapi juga melibatkan pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, media, dan seluruh elemen masyarakat.







Alamat Redaksi :