Parigi Moutong, Zenta Inovasi – Lapas Kelas III Parigi Kabupaten Parigi Moutong, terus memperkuat program ketahanan pangan mandiri di tengah tingginya jumlah warga binaan yang kini telah melampaui kapasitas hunian.
Kepala Lapas Kelas III Parigi, Fentje Mamirahi mengatakan, program tersebut telah dijalankan sejak dirinya mulai bertugas sekitar 11 bulan lalu. Melalui keterlibatan langsung warga binaan, berbagai komoditas pangan mulai dikembangkan guna menunjang kebutuhan internal lapas.
Upaya ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap Asta Cita Presiden serta akselerasi kebijakan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di seluruh Indonesia, khususnya di lingkungan lembaga pemasyarakatan.
“Sejak awal, kami fokus menggerakkan warga binaan untuk menanam berbagai jenis tanaman seperti kangkung, pokcai, terong, dan cabai. Selain itu, kami juga mengembangkan budidaya ikan lele dan mujair sebagai sumber pangan tambahan,” ungkap Fentje, Selasa 7 April 2026.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mendukung ketahanan pangan, melainkan menjadi bagian dari pembinaan kemandirian bagi narapidana.
Ia menuturkan, program tersebut telah membuahkan hasil melalui panen raya serentak yang digelar secara nasional pada Januari 2026. Dalam kegiatan itu, Lapas Parigi ditargetkan memanen komoditas kangkung dan mampu menghasilkan sekitar 38 kilogram.
“Dari hasil panen ini, sebanyak 5 persen dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga binaan di dalam lapas. Sementara untuk sisanya, dijual ke pasar tradisional di wilayah Kota Parigi,” ujar Fentje.
Ia mengakui, pada tahap awal, seluruh kebutuhan program mulai dari bibit tanaman hingga budidaya ikan, masih diupayakan secara mandiri oleh pihak lapas. Namun, seiring berjalannya waktu, dukungan mulai datang dari Pemerintah Kabupaten Parmout.
“Baru-baru ini kami mendapat bantuan bibit cabai sekitar 200 pohon dari Dinas Ketahanan Pangan. Bibit tersebut sudah kami tanam. Untuk lahan masih ada yang kosong, olehnya ke depan akan kami optimalkan,” tutur Fentje.
Ia menambahkan, bahwa pihaknya ke depan, akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menambah ketersediaan bibit berbagai komoditas. Sehingga pelaksanaan program ketahanan pangan dapat berjalan lebih maksimal.
Di sisi lain, kondisi overkapasitas menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan program tersebut. Saat ini, kata Fentje, jumlah warga binaan di Lapas Kelas III Parigi telah mencapai 385 orang, jauh melampaui kapasitas ideal yang hanya diperuntukkan bagi 182 orang.
Ia menerangkan dengan jumlah penghuni yang tinggi, tentu kebutuhan pangan di dalam lapas pun ikut meningkat. Karena itu, program ketahanan pangan mandiri dinilai menjadi langkah strategis untuk membantu memenuhi sebagian kebutuhan sekaligus menekan ketergantungan dari luar.
Fentje pun menegaskan, pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk menolak warga binaan yang masuk, karena seluruh proses penegakan hukum telah berjalan sesuai mekanisme.
“Lapas tetap harus menerima setiap narapidana yang dititipkan,” jelas Fentje.
Ia juga mengungkapkan bahwa mayoritas warga binaan di Lapas Parigi didominasi kasus narkotika, dengan persentase mencapai sekitar 80 persen. Kondisi tersebut semakin memperkuat pentingnya program pembinaan produktif, termasuk di sektor ketahanan pangan.
“Dengan kondisi overkapasitas ini, kami dituntut lebih inovatif. Ketahanan pangan bukan hanya program, tapi juga solusi untuk membantu kebutuhan warga binaan sekaligus memberikan mereka keterampilan,” pungkas Fentje.

Alamat Redaksi :