Parigi Moutong, Zenta Inovasi – Pimred National Geographic Indonesia, Didi Kaspl Kasim mengatakan, lingkungan bukan isu pinggiran. Jurnalis perlu menempatkan lingkungan sebagai isu utama, yang berarti membaca ulang apa yang sesungguhnya menentukan keberlangsungan hidup manusia.
Demikian kata Didi, saat membawakan materi pada kegiatan Pelatihan Jurnalistik Menulis untuk Menyelamatkan Alam, yang diselenggarakan Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI) yang dikolaborasikan dengan PT Donggi-Senoro LNG (DSLNG) yang diikuti puluhan jurnalis dari berbagai daerah di Sulawesi Tengah, di Palu, Kamis 8 Januari 2026.
Didi menambahkan, sejak 2005 National Geographic hadir di Indonesia dan hingga kini tetap konsisten mengangkat isu lingkungan. Menurutnya, lingkungan tidak pernah berdiri sendiri, melainkan selalu berkaitan erat dengan manusia, budaya, serta ekonomi rumah tangga atau “soal perut”.
Ia menegaskan, peran media sangat penting dalam mencatat peristiwa-peristiwa lingkungan agar ingatan publik tetap terjaga. Media, kata dia, mungkin tidak mampu menghentikan seluruh kerusakan alam, namun tanpa jurnalisme yang jujur dan konsisten, kerusakan akan terus terjadi tanpa saksi.
“Di situlah peran media siber diuji untuk hadir dan mencatat, bertanya, dan menolak lupa, agar hutan yang hilang, laut yang tercemar, serta manusia yang terdampak tidak lenyap begitu saja di tengah arus kecepatan informasi,” ujarnya.
Didi juga menekankan bahwa alam sejatinya tidak perlu diawasi, sebab yang perlu diawasi adalah keputusan manusia atas alam, mulai dari izin, kebijakan, hingga praktik industri.
Lanjutnya, hampir selalu terdapat jejak keputusan manusia di balik setiap kerusakan lingkungan yang terjadi. Dalam perspektif National Geographic Indonesia, jurnalisme lingkungan adalah cerita tentang relasi.
“Relasi antara manusia dengan alam, budaya, serta masa depan yang dibentuk oleh keputusan-keputusan kecil hari ini,” tuturnya.
Dalam pemaparannya, Didi menambahkan, jurnalisme lingkungan tidak berhenti pada pelaporan bencana semata, tetapi menelusuri hubungan yang retak dan harga yang harus dibayar akibat kerusakan tersebut.
Ia mencontohkan liputan banjir perkotaan yang tidak semata-mata diperlakukan sebagai akibat hujan ekstrem. Media perlu menelusuri alih fungsi lahan, sungai yang dipersempit, serta tata kota yang menutup ruang resapan air.
Menurutnya, dengan mencatat dan menghubungkan cerita lingkungan dari waktu ke waktu, media tidak hanya melaporkan peristiwa hari ini, tetapi juga mengingatkan publik bahwa krisis lingkungan merupakan cerita panjang.
Selama ingatan itu dijaga, kata Didi, masyarakat tidak akan menganggap bencana sebagai sesuatu yang wajar atau tak terelakkan.
Didi menegaskan kembali, bahwa lingkungan hadir dalam kehidupan sehari-hari, yang terkait dengan dapur, ladang, di udara yang dihirup, dan di air yang diminum.
“Ketika lingkungan terganggu, dampaknya bukan hanya dirasakan oleh hutan atau laut, tetapi langsung memengaruhi pangan, kesehatan, dan cara manusia menjalani hidup,” urainya.
Ia juga menyoroti wilayah pesisir sebagai contoh nyata lingkungan sebagai persoalan pangan. Ketika laut memanas dan terumbu karang rusak, cerita bermula dari nelayan yang pulang lebih cepat dengan hasil tangkapan yang semakin sedikit. Lingkungan, tegasnya, bukan sekadar panorama indah, melainkan penentu apakah dapur keluarga tetap menyala.
“Lingkungan adalah soal perut, bukan sekadar pemandangan,” pungkas Didi.

Alamat Redaksi :