Taba’o Lauje, Kejayaan Komoditi Tembakau Parigi Moutong yang Terjaga dari Masa ke Masa

Parigi Moutong, Zenta Inovasi – Matahari terik bersinar, disahuti dengan semilir angin sepoi siang ini Rabu 6 Agustus 2025. Moutui, Petani Tembakau desa Tibu Kecamatan Tinombo Kabupaten Parigi Moutong, tengah mengatur padanan (Pitate) tembakau yang telah selesai diiris untuk dijemur.

Tembakau? Ya, tidak salah memang. Tanaman yang dikenal dengan bahasa latin Nicotiana Tabacum ini, adalah komoditi yang menjadi andalan bagi sebagian besar petani khususnya di Dusun III Desa Tibu, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Bacaan Lainnya

Mari sejenak kita mengenal tanaman yang konon berasal dari benua Amerika bagian Utara dan Selatan, yang dibawah oleh bangsa barat yang melakukan kolonisasi (Penjajahan) ke wilayah Asia Tenggara, termasuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tak terkecuali di Pulau Sulawesi.

Tanaman yang produksinya dikejar karena daunnya dapat diolah menjadi berbagai produk tembakau terutama rokok, memiliki nilai ekonomis tinggi sebagai komoditas perkebunan.

Tak terkecuali di daerah Kabupaten Parigi Moutong, khususnya wilayah Pantai Timur meliputi Kecamatan Tinombo, Kecamatan Sidoan dan Kecamatan Palasa. Komoditi ini banyak dikembangkan oleh petani dengan sistem tradisional sejak turun temurun.

Komoditi Tembakau, menjadi primadona yang terus terjaga oleh petani di desa-desa seperti Desa Tibu, Desa Dusunan Kecamatan Tinombo, Desa Baina’a Selatan (Ponsalea) Kecamatan Sidoan, juga sebagian desa di Kecamatan Palasa, yang mereka kenal dalam bahasa Lauje dengan sebutan Taba’o .

Taba’o ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi, ditengah gempuran petani yang mulai mengenal komoditi lain seperti Kakao, Cengkeh, Pala, Nilam dan sebagainnya. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya beberapa kelompok tani Tembakau di beberapa desa itu dan dibina oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), dari instansi Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Parigi Moutong.

Salah satu Petani Tembakau Desa Tibu, yang enggan disebutkan namanya kepada penulis mengatakan, komoditi Tembakau ini sudah sejak lama dibudidayakan oleh warga setempat, bahkan sering diekspor ke luar daerah seperti ke wilayah Gorontalo dan Pulau Ternate Maluku.

Kejayaan komoditi Tembakau di daerah Pantai Timur atau wilayah Utara Kabupaten Parigi Moutong ini, kini bersanding dengan komoditi perkebunan lainnya yang kini telah diminati oleh petani seperti Kakao dan Cengkeh.

Berbicara nilai ekonomis, komoditi yang dipanen di usia 3-4 bulan tergantung varietasnya, sangatlah menjanjikan. Karena petani biasanya hanya habis dibiaya beli obat semprot hama, racun rumput (Herbisida) dan biaya pagar atau paranet.

Sementara biaya pemupukan sama sekali tidak ada, karena petani tidak menggunakan pupuk kimia, karena lahan pertanian mereka masih sangat subur dengan sistem pindah tanam (Nomaden) setelah panen.

Komoditi Tembakau dijual dalam bentuk daun yang sudah dirajang baik secara rajang halus ataupun rajang kasar. Nilai jualnya per bungkus bervariasi, yakni berkisar antara Rp250.000 sampai dengan Rp.300.000, dan per pitate sekitar Rp150.000. Jikalau dalam jumlah besar biasanya dijual per pack dimana dalam satu pack isi 10 bungkus, dihargai senilai 2 sampai 3 juta rupiah.

“Biasanya ada pembeli dari Gorontalo, atau kalau sekarang cukup dijual ke pasar sudah laku habis,” ujar Moutui, petani Tembakau Desa Tibu Kecamatan Tinombo.

Sementara itu terkait kendala, para petani tembakau yang kami temui, hampir semuanya mengeluhkan sulitnya akses Saprodi dan Alsintan seperti alat mesin semprot, obat hama, maupun paranet.

Lantas, apa yang harus kita lakukan agar kejayaan Komoditi Tembakau tak hanya menjadi cerita turun temurun dan petani tak hanya stagnan dengan pola pertanian yang selama ini dijalankan.

Saya rasa yang perlu dilakukan, dan saya harap bisa menjadi masukan yang baik bagi para pemangku kebijakan mulai dari tingkat desa, dinas, hingga pengambil kebijakan tertinggi agar kiranya komoditi Taba’o ini diperhatikan dan ditingkatkan kejayaannya.

Apalagi, Pemerintahan Kabupaten Parigi Moutong dibawah kepemimpinan baru yakni Erwin Burase dan Abdul Sahid, mengusung visi pembangunan yakni Gerbang Desa (Gerakan Membangun dari Desa), dan komoditi Taba’o adalah komoditi yang menyentuh langsung masyarakat di desa desa.

  1. Pengembangan Industri Hilir

Sudah saatnya kita berpikir, dengan potensi komoditi Tembakau yang ada, perlu dibangun pabrik pengolahan tembakau, tidak hanya untuk rokok tetapi juga produk diversifikasi lain seperti cerutu atau produk herbal.

Hal ini diharapakan akan menciptakan nilai tambah yang signifikan. Pabrik ini harus dilengkapi dengan teknologi modern, menyerap tenaga kerja lokal, dan memangkas rantai pasok yang panjang. Hal ini akan mengurangi ketergantungan petani pada pembeli dari luar dan memberikan harga yang lebih stabil.

  1. Peningkatan Akses Saprodi dan Alsintan

Berdasarkan keluhan petani, pemerintah daerah melalui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (TPHP), harus memfasilitasi akses yang lebih mudah dan terjangkau ke Saprodi dan Alsintan.

Ini bisa diwujudkan dengan yaitu, penyediaan subsidi atau pinjaman lunak untuk pembelian alat mesin semprot, paranet, dan obat hama yang berkualitas, serta pembentukan pusat distribusi Saprodi di tingkat kecamatan yang dikelola oleh koperasi petani, sehingga biaya logistik bisa ditekan.

  1. Pelatihan dan Modernisasi Pertanian

Peran Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), harus ditingkatkan untuk melatih petani dalam teknik budidaya modern, manajemen hama terpadu, dan praktik pasca panen yang lebih efisien. Pendekatan ini akan meningkatkan kualitas tembakau, efisiensi produksi, dan daya saing di pasar.

  1. Regulasi dan Promosi Produk Unggulan

Pemerintah perlu membuat regulasi daerah yang mendukung keberlanjutan komoditas tembakau lokal. Selain itu, diperlukan upaya promosi yang terstruktur untuk memperkenalkan tembakau dari wilayah ini sebagai produk unggulan daerah dengan kualitas dan karakteristik unik. Hal ini dapat dilakukan melalui pameran, festival, atau kemitraan dengan industri nasional.

Dengan mengimplementasikan langkah-langkah di atas, kejayaan tembakau di Kabupaten Parigi Moutong tidak hanya akan terjaga, tetapi juga akan bertransformasi menjadi pilar ekonomi yang lebih kuat, memberikan manfaat yang lebih besar bagi petani dan masyarakat secara keseluruhan, dan tak kalah penting bahwa kejayaan Taba’o Lauje khas daerah Kabupaten Parigi Moutong terus terdorong ke kancah nasional bahkan global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *