Parigi Moutong, Zenta Inovasi- Bidang Kebudayaan pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah (Disdikbud), menggelar diskusi terpumpun membahas Pokok-Pokok Pikiran Budaya Daerah (PPKD) Parigi Moutong, di aula Disdikbud, Rabu 29 April 2026.
Diskusi ini melibatkan Arkeolog Sulawesi Tengah, Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah, Sejarawan, perwakilan Dewan Adat Patanggota, tokoh adat, seniman, tokoh pemuda, pegiat budaya, perwakilan guru dari Korwil Pendidikan, camat dan jurnalis. Kegiatan ini bertujuan untuk memutakhiran data PPKD yang telah disusun pada 2020 silam.
Diskusi ini mengusung tema ‘Bersama Menjaga Warisan Budaya untuk Masyarakat Depan’, dan dipandu langsung Pamong Budaya pada Bidang Kebudayaan Disdikbud Parigi Moutong, Muhamad Taufan.
“Pemutakhiran data PPKD ini, sesuai peraturan akan dilakukan setiap lima tahun sekali. Misalnya, banyak sanggar seni baru terbentuk dalam lima tahun terakhir yang seharusnya masuk di dokumen ini,” jelas Taufan.
Dia mengatakan, dalam upaya pelestarian budaya harus ada sinergi antara pemerintah, adat dan agama. Tiga unsur penting ini dikenal dengan filosofi ‘tunda talusi’.
Arkeolog Drs Iksam Djorimi M.Hum yang hadir sebagai narasumber, mengapresiasi Pemerintah Parigi Moutong yang saat ini sudah memasuki tahap pemutakhiran data. Menurutnya, masih banyak daerah di Indonesia belum menyusun PPKD.
“Kita sudah disusun, ditanda tangani kepala daerah, bahkan hari ini di mutakhirkan,” ujar Iksam.
Menurut Iksam, pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan bisa mendorong salah satu objek pemajuan kebudayaan (OPK) sebagai warisan budaya dunia. Misalnya kata dia, warisan budaya tak benda, seperti musik.
“Bisa didorong untuk didaftarkan menjadi warisan budaya dunia. Misalnya kakula Indonesia yang sangat mirip dengan kakula di Filipina, ini bisa diusulkan menjadi warisan budaya bersama,” terangnya.
Dia menambahkan, budaya bukan hanya berbicara soal pelestarian, tetapi mencakup perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan seluas-lusnya.
“Mencatat itu sebagai upaya perlindungan, pengembangan dengan melakukan riset, sementara hasilnya untuk pemanfaatan seluas-luasnya seperti untuk pendidikan dan pariwisata,” ucap Iksam.
Hal penting yang dia tekankan, keanekaragaman dalam kebudayaan menjadi kekayaan bukan untuk menjadi perdebatan.
Sementara itu, Sri Nur Rahma selaku pegiat kebudayaan dan sejak awal menginisasi penyusunan PPKD, mengatakan, sejak 2020 tim kebudayaan telah mengumpulkan data untuk bahan PPKD dengan melibatkan banyak unsur dari wilayah selatan hingga utara Parigi Moutong.
“Hari ini waktunya untuk dimutakhirkan data itu, karena dipastikan masih banyak unsur kebudayaan yang belum dimasukan dalam PPKD. Tujuan inilah orang-orang tua adat kami diundang, agar memberikan masukan dan koreksi terhadap dokumen ini,” ucap Sri.
Sri Nur Rahma menambahkan, masih banyak cerita rakyat di Parigi Moutong yang belum dituliskan atau bahkan sudah ditulis tetapi belum tersosialiasikan secara masif.
“Pernah ada Pojok Literasi Budaya (Polibu) di Sekolah-Sekolah, kami sediakan buku dongeng, cerita rakyat, alat peraga kebudayaan. Saya berharap, sekolah bisa memberikan sedikit ruangan di Perpustakaan, khusus untuk belajar Budaya,” pesannya.
Diakhir diskusi, Sri menyampaikan harapanya agar dokumen PPKD ini menjadi salah satu acuan pembangunan daerah, bukan hanya menjadi sebatas dokumen.


Alamat Redaksi :