Pameran Foto GSMS Dikbud Parigi Moutong Ramaikan FTT 2025

Parigi Moutong, Zenta Inovasi — Hasil karya foto siswa dari program Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Parigi Moutong, ikut ramaikan Festival Teluk Tomini (FTT) 2025.

Hasil karya siswa SMP Negeri 3 Parigi itu, dipamerkan selama pelaksaan FTT di lokasi eks Sail Tomini, Kayubura.

Bacaan Lainnya

Salah satu siswa SMP Negeri 3 Parigi, yang karyanya ikut dipamerkan, Awliyah, mengaku bangga bisa menjadi bagian dari program GSMS tahun ini.

“Saya bangga bisa jadi bagian dari GSMS. Jadi banyak tahu dunia fotografi, diajarkan mengambil angle dari berbagai sudut. Saya berharap ada pelatihan lanjutan,” ujar Awliyah Ramadhani, ditemui Jum’at malam.

Awliyah mengaku senang dan terbantu dalam mengembangkan minatnya di bidang seni, khususnya fotografi, setelah mengikuti program GSMS ini.

Ia menyebut, program ini membuka ruang belajar yang tidak selalu diperoleh di bangku sekolah formal. Kehadiran GSMS, perlu dipertahankan agar siswa dapat terus mengeksplorasi seni, baik tari, musik, maupun fotografi.

Seniman fotografi GSMS, Isra Labudi, menjelaskan, proses belajar para siswa berlangsung intensif selama 18 pertemuan, terdiri dari 14 sesi teori fotografi dan 4 sesi praktik, ditambah 3 pertemuan tambahan menjelang pameran.

Proses pendampingan ini, dirancang bukan hanya untuk mengajarkan teknik memotret, tetapi juga memperkenalkan nilai budaya melalui objek-objek fotografi.

“Kami bagi 24 peserta menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama memotret cagar budaya, kelompok kedua alat musik tradisi, dan kelompok ketiga permainan tradisional,” ujar Isra.

Siswa diarahkan untuk menyentuh aspek-aspek budaya yang masuk dalam 10 objek pemajuan kebudayaan, seperti Tugu Khatulistiwa, Rumah Raja Tombolotutu, jembatan peninggalan Belanda.

Juga, alat musik lalove, serta berbagai permainan tradisional seperti enggrang, bakiak, enggrang batok kelapa, main sarung, hingga balon sarung. Beberapa foto dikonsep menggunakan talent untuk memperkuat narasi visual.

“Harapan saya, anak-anak ini tetap mencintai fotografi. Semoga ada yang kelak jadi fotografer sukses, lebih bagus. Yang penting mereka belajar budaya melalui fotografi,” jelas Isra.

Melalui GSMS, seni tidak hanya diperkenalkan sebagai keterampilan teknis, tetapi sebagai medium pendidikan budaya.

Pameran foto ini, sekaligus menegaskan pelajar Parigi Moutong mampu menghasilkan karya yang tidak hanya estetik, tetapi juga memuat pesan tentang identitas dan kekayaan budaya daerah.

Pameran foto ini juga menjadi bukti nyata bagaimana GSMS mendorong siswa memahami fotografi sekaligus mempelajari kembali kekayaan budaya lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *