Capaian Kinerja Disdikbud Parigi Moutong Lampaui Target, Sunarti: Jangan Terlena, Terus Tingkatkan

ISTIMEWA

Parigi Moutong, Zenta Inovasi – Setiap tahun Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei, diperingati dengan khidmat, meriah dan penuh optimisme.

Hardiknas tak lagi sekadar seremoni, tetapi menjadi refleksi atas sejauh mana pendidikan tumbuh merata dan menjangkau sampai ke tempat paling pelosok sekalipun.

Bacaan Lainnya

Di Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah, optimisme itu bisa terlihat dari capaian kinerja sektor pendidikan. Catatan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parigi Moutong menunjukkan, dari 17 indikator kinerja sepanjang 2025, sebagian besar melampaui target. Angka-angka itu, berbicara tentang akses makin terbuka, layanan membaik, hingga budaya yang terus dijaga.

“Sebagian besar indikator kinerja tahun 2025 menunjukkan capaian sangat baik karena realisasinya melampaui target. Namun, masih ada indikator yang perlu mendapat perhatian, khususnya pada jenjang SMP/MTs,” ungkap Plt Kepala Disdikbud Parigi Moutong, Sunarti di Parigi, Jum’at, 1 Mei 2026.

Pada level dasar, rata-rata lama sekolah melampaui target, dari 7,97 tahun menjadi 8,07 tahun atau 101,2 persen capaian. Sementara harapan lama sekolah hampir menyentuh target, yakni 12,53 tahun dari target 12,56 tahun atau 99,7 persen, meski masih dalam kategori cukup.

Juga, akses pendidikan usia dini melonjak signifikan. Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD mencapai 98,63 persen dari target 94,26 persen, dengan capaian 184,64 persen.

Di jenjang SD/MI, APK berada di angka 98,01 persen dari target 92,62 persen atau 105,82 persen capaian. Sementara Angka Partisipasi Murni (APM) SD/MI mencapai 92,55 persen dari target 92,41 persen, atau 100,15 persen capaian.

“Capaian ini menunjukkan peningkatan akses pendidikan dasar yang cukup signifikan, terutama pada PAUD dan SD,” lanjutnya.

Namun, cerita berbeda terlihat saat memasuki jenjang SMP/MTs. APK SMP/MTs hanya mencapai 68,21 persen dari target 83,43 persen, dengan capaian 81,78 persen atau masuk kategori cukup.

Lebih rendah lagi, APM SMP/MTs berada di angka 57,63 persen dari target 82,83 persen, dengan capaian 69,58 persen yang masuk kategori kurang.

Angka-angka tak lagi sekadar statistik, melainkan penanda bahwa masih ada anak-anak yang belum melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Di sisi kualitas, indikator lain menunjukkan progres yang kuat. Nilai Rapor Pendidikan meningkat dari target 51,07 menjadi 61,78, dengan capaian 120,97 persen. Standar Pelayanan Minimal (SPM) pendidikan juga melampaui target, dari 78,36 menjadi 82,14 atau 104,82 persen capaian.

Penguatan layanan pendidikan usia dini juga terlihat dari capaian PAUD Holistik Integratif, yang mencapai 100 persen dari target 67,20 persen atau 148,81 persen capaian. Sementara itu, sekolah terakreditasi mencapai 99,63 persen dari target 75,27 persen atau 132,36 persen capaian.

“Indikator kualitas layanan pendidikan menunjukkan tren yang sangat baik, baik dari sisi akreditasi maupun standar pelayanan,” ungkapnya.

Pada sisi tenaga pendidik, capaian juga menunjukkan dinamika tersendiri. Persentase guru berkualifikasi sesuai SPM tercatat 53,54 persen dari target 69,82 persen, dengan capaian indikator 130,41 persen. Sedangkan distribusi guru sesuai standar mencapai 56,48 persen dari target 82,14 persen, dengan capaian 145,43 persen.

Menariknya, pada indikator guru, meskipun realisasi berada di bawah target, capaian justru tercatat tinggi karena perhitungan indikator mengacu pada standar pelayanan minimal yang berbeda.

Sementara itu, sektor kebudayaan memperlihatkan geliat yang tak kalah kuat. Penyelenggaraan festival seni dan budaya mencapai 83,33 persen dari target 50 persen atau 166,67 persen capaian. Pengembangan kesenian daerah juga meningkat dari target 54,5 persen menjadi 83,33 persen atau 152,91 persen capaian.

Pelestarian benda, situs, dan kawasan cagar budaya mencapai 63 persen dari target 52,7 persen atau 119,54 persen capaian, menunjukkan keberhasilan menjaga warisan daerah.

Namun, pelestarian adat budaya masih menjadi catatan. Realisasinya baru mencapai 75,61 persen dari target 82,92 persen, dengan capaian 91,18 persen atau masih dalam kategori cukup.

“Upaya pelestarian adat budaya masih perlu ditingkatkan agar capaian kinerja lebih optimal,” kata dia.

Sunarti menegaskan, capaian yang telah diraih tidak boleh membuat semua pihak berpuas diri. Ia mencontohkan, jika target awal sebesar 80 persen dan realisasi mencapai 85 persen, maka ke depan target tersebut harus dinaikkan, misalnya menjadi 87 persen atau lebih, sebagai bagian dari upaya mendorong kinerja berkelanjutan.

“Kami telah mencapai target yang ditetapkan, namun capaian tersebut tidak boleh membuat kita terlena. Apa yang sudah diraih harus terus ditingkatkan, dengan menetapkan target yang lebih tinggi di masa mendatang,” tegasnya.

Ia juga berharap peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Parigi Moutong tidak hanya diukur dari capaian indikator, tetapi juga dari kemampuan mencetak generasi yang berdaya saing.

“Selain memastikan tidak ada anak putus sekolah, kita juga harus meningkatkan prestasi. Outputnya adalah menciptakan anak yang mampu bersaing dengan daerah lain, sehingga di manapun mereka menimba ilmu, mereka bisa masuk sesuai harapan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *