Parigi Moutong, Zenta Inovasi- Pelaksana Paket Pekerjaan Pembangunan Gedung Layanan Perpustakaan, Stenly, mengaku menemui Wakil Bupati Abdul Sahid karena merasa dipersulit Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Sakti Lasimpala.
Menurutnya, setiap kali akan melakukan pencairan per termin, Sakti Lasimpala yang juga merupakan Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusarda) Parigi Moutong, menjadi sulit ditemui untuk meminta tanda tangan pencairan pekerjaan CV Arawan.
Menurut Stenly, mulai dari kontrak pihaknya sudah merasa dipersulit yang menyebabkan tertunda dua bulan. Bahkan, setelah kontrak dia tidak mendapatkan uang muka. Sehingga ia mengaku diawal pekerjaan masih menggunakan uang pribadi senilai hampir Rp2 miliar.
“19 Mei kontrak 11 Juni baru cair uang muka. Padahal aturan habis kontrak 7 hari keluar. Kenapa lambat, karena minta tanda tangan Pak Sakti agak susah, dicari lari, setengah mati, ditolak terus. Akhirnya saya maju ke pimpinanya, saya mau minta tolong ke siapa?,” terang Stenly, saat konfrensi pers didampingi Pelaksana Lapangan, Ari Anggoro, Sabtu 29 November 2025.
Menurutnya, pihaknya berinisiatif menemui pimpinan daerah dengan cara yang profesional, selaku kontraktor pemenang proyek, semata karena merasa dipersulit saat pencairan per termin.
“Saya maju ke pimpinan Pak Bupati dan Wabup, tidak ada intervensi apapun, saya hanya minta tolong minta saya punya hak, saya minta uang muka. Kita ini kerja bagus- bagus,” keluhnya.
Kemudian lanjutnya, setelah berjalan pekerjaan sekitar 55 persen, Stenly mengaku masih dipersulit juga sehingga lagi-lagi dia harus menemui pimpinan daerah.
“Pekerjaan 55 persen saya minta pencairan termin 50 persen, tanda tangan susah lagi, lari kesana kemari. Lambat lagi kita. Akhirnya maju lagi ke Bupati ke Wabup minta tolong, saya minta saya punya hak, ditanda tangan akhirnya,” beber Stenly.
Stenly menjelaskan, pencairan termin ketiga diajukan diangka 73 persen tetapi pekerjaan sementara berjalan, sehingga dia merasa memenuhi syarat mengajukan pencairan 70 persen.
“Kalau soal itervensi dari wabup atau bupati tidak ada. Saya minta perpanjangan waktu, menggunakan surat tembusan bupati, wabup dan kejaksaan. Tolonglah dipertimbangkan saya punya hak,” ucapnya.
Ditanya terkait ada dugaan hubungan kedekatan dengan Wabup Abdul Sahid, Stenly tidak menepis hal itu, namun menurutnya hanya sebatas keperluan komunikasi pekerjaan.
“Iya ada (kedekatan dengan Wabup) Bupati juga, dua duanya ada. Komunikasi saja, nda ada kedekatan apa,” tandasnya.
Stenly pun menyesalkan adanya pergantian PPK sebelumnya yang lebih paham persoalan teknis.
Menurutnya, satu hari saja tertunda sudah merugikan pihak pelaksana. Sehingga dia merasa perlu untuk melaporkan hal yang membuat pekerjaanya menjadi lambat ke pimpinan daerah.
“Kalau soal intervensi tidak ada, saya hanya datang, mengeluh sama siapa?,” ucap Stenly.
Namun dia mengakui terlambat saat sudah memasuki pekerjaan pengecoran. Tetapi dia berdalih, ada surat yang dikeluarkan pihak penyedia menjelaskan alasan keterlambatan, ini yang akan menjadi salah satu dasar untuk meminta perpanjangan waktu.
Ia juga menolak disebut memaksa meminta mengganti kaca menjadi oneway. Menurutnya mengadakan kaca bukan sesuatu yang sulit, namun pihaknya mempertimbangkan keamanan sehingga belum melakukan pemesanan.
“Saya hanya meminta semua bertanggungjawab karena ini kaca tebal yang hanya disangga baut. Ketika tadi rapat sudah disepakati semua bertanggungjawab kalau ada apa-apanya, saya sudah pesan,” ungkapnya.
Diketahui, saat ini progres pekerjaan di minggu ke 25 sebesar 73,20% Progres Rencana 80.56% dan Deviasi -7,35% dan waktu pelaksanaan sisa 49 hari kalender.
Keterlambatan disebabkan oleh kendala pada saat proses pelaksanaan pekerjaan, yaitu alasan teknis dan non teknis.
Seperti, pemindahan lokasi bangunan, terjadi pemindahan Lokasi area kerja sehingga diperlukan Land Clearing. Juga terdapat perubahan gambar kerja dan selisih volume pekerjaan sehingga dilakukan review design.
Sementara, alasan non-teknis, adanya keterlambatan pencairan uang muka pada tahap I, yang cair pada bulan Juli 2025 dan SPMK dimulai tanggal 16 Mei 2025.
Juga, keterlambatan mobilisasi materail dikarenakan akses buka tutup jalan area kebun kopi dan keterlambatan pengecoran Ready mix Fc 25 Mpa, dikarenakan kerusakan alat concrete pump yang direncanakan pada tanggal 10 Oktober 2025 tetapi terealisasinya pada tanggal 22 oktober 2025
“Sehingga kami memohon untuk dilakukan penambahan waktu pelaksanaan pekerjaan pada paket tersebut sampai dengan tanggal 29 Desember 2025,” tutupnya.
Alamat Redaksi :