Parigi Moutong, Zenta Inovasi– Banjir bandang yang menerjang Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parigi Moutong, Rabu 26 Agustus 2026 dini hari, menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan sekaligus kepedulian bersama terhadap lingkungan.
Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Parigi Moutong, Arifin Lamalindu, mengajak seluruh pihak tidak hanya hadir ketika bencana terjadi, tetapi juga membangun kesadaran dan melakukan langkah pencegahan sebelum bencana kembali terjadi.
Menurut Arifin, kejadian tersebut menjadi catatan penting karena terjadi di tengah pembahasan mengenai potensi musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada September dan Oktober 2026.
“Baru saja usai tanggal 18 Agustus 2026 saya bersama tenaga ahli menggagas aksi 100 menit pungut sampah di Parigi Moutong. Selaku pengurus FPRB, saya kembali menerima undangan rapat koordinasi tentang musim kemarau yang diperkirakan BMKG puncaknya pada September dan Oktober 2026. Tapi tanpa diduga, Desa Avolua justru terjadi banjir bandang waktu dini hari,” ujar Arifin, diwawancara via WatsAap, Rabu 26 Agustus 2026 malam.
Arifin mengatakan, banjir tersebut tidak hanya berdampak terhadap permukiman warga, tetapi juga menyebabkan kerusakan dan kerugian pada sejumlah aset masyarakat maupun dunia usaha.
Ia menyebut terdapat sekitar 15 rumah yang terdampak, termasuk satu rumah yang dilaporkan hilang.
Banjir juga menerjang area perusahaan pengolahan buah durian setelah aliran air meluap dan berbelok dari jalur yang sebelumnya dilalui sungai. Material banjir bahkan merusak tembok pembatas milik perusahaan dan membelah bagian pelataran.
Selain itu, dua sepeda motor turut terbawa material banjir. Satu unit berhasil diselamatkan, sedangkan satu lainnya masih tertimbun material yang dibawa arus.
Bagi Arifin kejadian banjir di Avolua perlu menjadi bahan evaluasi bersama terhadap cara masyarakat dan pemerintah memperlakukan serta membaca kondisi lingkungan.
Pasalnya, Desa Avolua sebelumnya juga pernah mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat sekitar tiga hingga empat bulan lalu yang berdampak terhadap ratusan hektare lahan.
“Banjir bandang Avolua ini adalah sebuah catatan kecil di memori kita. Sebelumnya Desa Avolua, Kecamatan Parigi Utara, tiga atau empat bulan lalu pernah dilanda kebakaran hutan dan lahan yang hebat,” katanya.
Ia menilai perhatian terhadap lingkungan tidak boleh berhenti pada pemberian bantuan setelah bencana terjadi. Menurutnya, penanganan pascabencana juga harus diikuti dengan langkah nyata untuk memperbaiki dan menjaga lingkungan yang menjadi bagian dari upaya pengurangan risiko bencana.
“Yang perlu kita sesali itu sebenarnya adalah kita belum mampu membaca tanda-tanda alam itu sendiri. Kedua, kita tidak pernah duduk bersama menseriusi apa rencana tindak lanjut sesudah bencana yang berhubungan dengan alam dan lingkungan itu sendiri,” tegasnya.
Arifin mengakui bencana merupakan peristiwa yang tidak selalu dapat dicegah. Namun, potensi ancaman terhadap keselamatan manusia dan harta benda, menurutnya, tetap dapat diminimalkan melalui kesiapsiagaan dan perencanaan yang baik.
Karena itu, ia mendorong agar upaya pengurangan risiko tidak hanya berfokus pada pembangunan jalur evakuasi dan titik kumpul, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat mengenai potensi bahaya di lingkungan masing-masing.
“Kita tidak hanya membangun jalur evakuasi menuju titik kumpul yang aman. Kita juga perlu membangun titik kesadaran terhadap bahaya di lingkungan sekitar yang mengancam keselamatan jiwa dan harta kita,” ujarnya.
Menurut Arifin, langkah tersebut membutuhkan perencanaan yang sistematis, terprogram dan dilakukan secara masif dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat, pemerintah, dunia usaha hingga komunitas.
Ia juga mengingatkan agar keterbatasan anggaran tidak selalu dijadikan alasan untuk menunda gerakan bersama dalam menjaga lingkungan.
“Jangan menjadikan dana tak tersedia atau kita lagi efisiensi sebagai kambing hitam. Faktanya, kita semua mampu bangkit bahu-membahu tanpa biaya atau dana. Generasi muda sampai lansia bersatu dalam gerakan 100 menit pungut sampah di Parigi Moutong,” katanya.
Arifin menegaskan, FPRB sebagai lembaga mitra pemerintah akan terus mendorong kerja sama dan mengingatkan seluruh pihak mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi berbagai potensi bencana.
Ia berharap banjir Avolua tidak hanya berhenti sebagai berita tentang kerusakan dan kerugian, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian bersama terhadap lingkungan.
“FPRB sebagai lembaga mitra pemerintah hanya mengingatkan para pihak tentang pentingnya kerja sama dan saling mengingatkan,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat perlu terus mawas diri dan membangun kesadaran bahwa pengurangan risiko bencana merupakan tanggung jawab bersama.
“Bahaya apa lagi yang mengintai kita sebagai manusia yang menguasai bumi dan lupa akan takdirnya? Wallahu a’lam bissawab. Mari mawas diri,” pungkas Arifin.






Alamat Redaksi :