Pertunjukan Seni Reog, Lestarikan Budaya dan Pererat Silaturahmi Transmigran Jawa di Parigi Moutong

Pertunjukan Seni Reog, Lestarikan Budaya dan Pererat Silaturahmi Transmigran Jawa di Parigi Moutong
Keterangan Foto: Penampilan seni Reog oleh kelompok Manunggal Sejati di Desa Tinombala, Rabu malam 25 Maret 2026 (Rahmat Fadil)

Parigi Moutong, Zenta InovasiPertunjukan seni Reog, merupakan salah satu upaya pelestarian budaya masyarakat Transimigran Jawa di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.

Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi ajang mempererat tali silaturahmi antarwarga. Pada momen ini, pengunjung yang datang tampak berbaur menikmati setiap atraksi, menciptakan suasana hangat khas kebersamaan di wilayah transmigrasi.

Bacaan Lainnya

Ketua sekaligus pemilik kesenian Reog Manunggal Sejati, Bonira (65), mengatakan, pertunjukan Reog merupakan bentuk komitmen dalam menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah masyarakat.

“Semoga ajang seni Reog ini tetap mulia. Kami di Manunggal Sejati akan terus berupaya menjaga dan melestarikan kesenian ini agar tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya, ditemui disela-sela pertunjukan Reog, Rabu 25 Maret 2026.

Ia menegaskan bahwa keberadaan seni Reog di Desa Tinombala tidak terlepas dari sejarah panjang transmigrasi masyarakat Jawa ke wilayah Parigi Moutong.

Diketahui, kawasan utara Kabupaten Parigi Moutong, khususnya di Kecamatan Mepanga, Ongka Malino, hingga Bolano Lambunu, merupakan daerah transmigrasi awal yang dihuni oleh masyarakat asal Pulau Jawa sejak beberapa dekade lalu.

Program transmigrasi yang digagas pemerintah bertujuan untuk pemerataan penduduk sekaligus membuka lahan pertanian baru di luar Pulau Jawa.

Seiring waktu, masyarakat transmigran tidak hanya membawa keterampilan bertani, tetapi juga nilai-nilai budaya, tradisi, dan kesenian, termasuk Reog yang hingga kini masih dilestarikan.

Kepala Desa Tinombala menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai kesenian tradisional memiliki peran penting dalam menjaga identitas sekaligus memperkuat kebersamaan masyarakat.

“Kami sangat mendukung kegiatan ini. Selain membangun dan melestarikan budaya Jawa di tanah transmigrasi, ini juga menjadi wadah mempererat silaturahmi antarwarga,” ungkapnya.

Antusiasme warga terlihat jelas dari banyaknya masyarakat yang hadir. Salah satunya Rony (30), yang mengaku bangga melihat budaya leluhur tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.

“Ini bukan hanya hiburan, tapi juga pengingat budaya kita. Apalagi bisa jadi ajang kumpul-kumpul,” katanya.

Tak hanya memberi dampak sosial, kegiatan ini juga membawa berkah ekonomi bagi warga sekitar. Wiwit (27), seorang penjual minuman dingin dan gorengan, mengaku bersyukur karena dagangannya laris selama acara berlangsung.

“Alhamdulillah, ramai sekali. Dagangan saya habis, ini sangat membantu menambah rezeki,” ungkapnya.

Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah desa, pelaku seni, maupun masyarakat, kesenian Reog Manunggal Sejati di Desa Tinombala diharapkan terus berkembang dan tetap lestari sebagai simbol kuat budaya Jawa di kawasan transmigrasi, sekaligus memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat setempat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *